Activity

  • Misbahuddin Azzuhri, M.M., CPHR., CSRS. posted an update 6 years ago

    JURNAL APLIKASI MANAJEMEN: DIKEBIRI DAN SEKALIGUS DILUPAKAN

    Bulan Agustus 2011 merupakan momen kebahagiaan untuk kesekian kalinya bagi Jurnal Aplikasi Manajemen (JAM) milik FEB UB. Betapa tidak, pada bulan ini JAM yang telah berdiri lama di FEB UB dan bereputasi nasional mendapatkan kembali akreditasinya yang ketiga kali secara berturut-turut. Bahkan kali ini JAM mendapatkan periode akreditasi sampai 5 tahun ke depan, yakni sampai Agustus 2016. Namun sayangnya raihan tersebut hanya bertahan 3 (tiga) bulan. Pasalnya Diktendik yang memproses usulan kepangkatan Guru Besar menolak mengakui setiap artikel yang dimuat di Jurnal Aplikasi Manajemen. Dalam hal ini Diktendik DIKTI menuduh bahwa:

    (1) Jurnal JAM banyak melakukan kesalahan seperti redaksional, penulisan dan lain-lain. Padahal dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, Jurnal JAM telah mendapatkan pengakuan akreditasi dari lembaga yang satu atap dengan Diktendik, yaitu DP2M Dikti. Bahkan SK menyebutkan bahwa status Akreditasi JAM dikeluarkan oleh DIKTI. Berarti bukan sekedar DP2M tetapi mengatas namakan DIKTI (dasar: SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 66b/DIKTI/Kep./2011).

    (2) Jurnal JAM disebut-sebut terbit 16 (ENAM BELAS) kali dalam setahun. Padahal semua orang tahu bahwa dalam satu tahun itu ada 12 bulan. Kemudian untuk satu kali terbit saja butuh waktu produksi rata-rata 3 (tiga) bulan. Jika dikatakan terbit 16 kali, bukankah ini lelucon paling hebat dalam dunia penerbitan berkala ilmiah. Untuk persoalan ini, ternyata penyebabnya adalah banyaknya oknum-oknum pengusul Golongan IV ke atas (termasuk Guru Besar) dari wilayah Indonesia Raya yang sengaja membuat artikel palsu dan memasukkannya dalam cetakan JAM tahun 2010, 2011. Tindakan kriminal yang dilakukan oleh oknum tersebut, telah mencederai cetakan asli Jurnal JAM. Tetapi ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. JAM dipalsukan orang lain, tetapi JAM juga yang dihukum “mati suri”.

    Semua tuduhan tersebut dan serangkaian tuduhan kecil lainnya sudah dijawab oleh redaksi JAM dan sampai hari ini tidak pernah direspon secara resmi oleh pihak Diktendik DIKTI. Malahan Diktendik DIKTI melakukan rilis JURNAL BLACKLIST di media online dan konon telah diteruskan ke seluruh perguruan tinggi bahwa Jurnal JAM tidak layak digunakan sebagai syarat pengusulan pangkat di Diktendik. Bahkan secara tidak langsung semua artikel yang diterbitkan di dalam JAM dianggap mendapat nilai 0 (Nol). Dengan kata lain kebijakan yang tidak berdasar ini telah membuat artikel ilmiah di JAM lebih rendah dari jurnal ilmiah tidak terakreditasi, bahkan lebih buruk dari tulisan di surat kabar, termasuk buletin sekalipun).

    Lebih parah lagi, surat Diktendik DIKTI (Konon tidak pernah diarsipkan oleh lembaga yang mengeluarkannya) juga di”amini” oleh Universitas Brawijaya dengan mengunggahnya di web. Bahkan hasil unggahan UB ini diperluas oleh TEMPO ONLINE. Bukankah ini adalah kekonyolan yang bisa disetarakan dengan bunuh diri.

    Pihak redaksi sudah berulangkali memproses hal tersebut secara baik-baik dan prosedural ke Jakarta, bahkan ketika Direktur Diktendik datang ke UB, pihak redaksi dan pimpinan FEB kala itu juga menanyakan baik-baik persoalan ini. Secara lisan kata Pak Direktur akan ditindaklanjuti dengan meninjau kembali. Tetapi hasilnya sampai hari ini menguap seperti ditiup angin. Dari dalam universitas, Jurnal JAM yang saat ini diakui oleh DP2M DIKTI dan diakui oleh PTN besar lain di Indonesia justru dilupakan oleh “rumah”nya sendiri (Universitas Brawijaya). Sebagai contoh lihat laman SBM ITB (http://www.sbm.itb.ac.id/daftar-berkala-ilmiah-terakreditasi-dikti-di-bidang-ekonomi.html) yang memuat daftar jurnal terakreditasi DIKTI untuk bidang ilmu Ekonomi di seluruh Indonesia. Dalam daftar tersebut tampak bahwa Jurnal Aplikasi Manajemen diakui sebagai jurnal nasional terakreditasi B oleh pihak ITB.

    Fakta sampai saat ini, banyak diantara pengusulan kepangkatan di lingkungan PTS se-Indonesia Raya yang menggunakan Jurnal JAM tetap diproses oleh KOPERTIS masing-masing wilayah. Banyak dosen PTS yang mengambil manfaat dari Jurnal Aplikasi Manajemen untuk karir fungsional mereka hingga hari ini. Bahkan beberapa yang berasal dari PTN juga lolos diproses di Jakarta dalam rangka usulan Guru Besar. Jadi tidak hanya PTS, PTN lain di Indonesia pun beberapa diantaranya tetap memproses pengusulan yang menggunakan artikel terbitan JAM FEB UB sekurang-kurangnya untuk pengusulan Gol III yang hanya dilakukan di internal lembaga.

    Sayangnya, manfaat di institusi lain tidak dirasakan sama sekali oleh dosen-dosen UB yang memiliki artikel di JAM. Bahkan spirit Diktendik yang mula-mula menolak artikel JAM hanya untuk pemrosesan Gol IV diteruskan oleh internal UB sampai Gol III juga. Bagi dosen yang tulisannya sudah dimuat di JAM tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. TIdak mudah menulis kembali di jurnal lain, apalagi banyak karya-karya terbaik mereka telah dimasukkan di jurnal JAM sebelumnya. Dalam hal ini, semua artikel yang telah masuk di sebuah jurnal ilmiah, tidak boleh dimasukkan kembali di jurnal lain.

    Kenyataan hari ini, bagi yang dosen memiliki rumpun ilmu manajemen, saluran jurnal nasional terakreditasi tidak banyak saat ini. Bahkan di Jawa Timur boleh jadi JAM adalah satu-satunya jurnal bidang manajemen yang terakreditasi. Di Indonesia Raya jurnal akreditasi di bidang ilmu manajemen sudah banyak yang habis masa akreditasinya. Jika merujuk daftar yang dirilis ITB saat ini tercatat hanya Jurnal JAM UB dan SEAJM UI yang terakreditasi sampai 2016 di Indonesia Raya. Tetapi sekali lagi khusus JAM bisa dibilang hidup dan aktif tetapi manfaatnya dikebiri. Jika jalan keluarnya adalah menulis di jurnal internasional, ternyata kriteria jurnal yang terindeksasi sesuai ketentuan DIKTI juga sering kontroversial. Satu hal yang patut dicatat apakah semua artikel harus dipublikasikan di jurnal internasional? Apakah semua jurnal nasional terakreditasi harus mati? Bagaimana dengan jurnal JAM yang merupakan aset UB, bereputasi nasional dan termasuk sedikit dari jurnal bidang manajemen yang terakreditasi harus gulung tikar hanya karena disalah gunakan oleh oknum-oknum yang berlindung di balik topeng akademisi?

    Melalui tulisan singkat ini, kami mohon kepada seluruh sivitas akademika se-Indonesia Raya untuk berpikir kritis mengenai nasib buruk yang menimpa Jurnal Aplikasi Manajemen. Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa menolong kami yang terzalimi.