• Nanang Suryadi wrote a new blog post: 14 years, 10 months ago

    23:26:54 7/07/2002 Ada yang ingin menerbangkan pikirannya seperti ilalang yang ditiup angin. Pada usia yang berangkat dengan segala sia-sia dan putus asa. Ada engkau yang menjenguk dengan dada berdebar dari balik jendela. Menunggu jam berdenting. Tepat di titik nol. Dia datang dengan selimut kabut. Dan cucuran embun dari matanya demikian…[Read more]

  • Nanang Suryadi wrote a new blog post: 14 years, 10 months ago

    23:34:37 7/07/2002

    Malam menebarkan bunga. Menyalakan lilin. Mengasapkan dupa.
    Sebisik rindu yang diucap: ingin dikekalkan segala. Dalam kata.

    Walau kau tahu segala fana. Segala fana. Bahkan…

  • Nanang Suryadi wrote a new blog post: 14 years, 10 months ago

    10:46:35 7/08/2002 : sihar ramses“ucok” simatupang Kau ingat saat kau lambaikan tanganmu. Di hujan yang menyimpan resah. Sebagai geletar tak terucap. Membasah pelupuk mataku. Tapi masih coba kusampai senyum. Untukmu. Dari beranda. Untukmu. Yang melambai. Di rinai hujan. Membasah rambutmu. Masih kau ingat? Sebaris kenangan. Mungkin demikian…[Read more]

  • Nanang Suryadi wrote a new blog post: 14 years, 10 months ago

    11:14:26 7/08/2002 mengingat: laila dan saman Kularungkan saja bayangan. Tak ada engkau sampai di sini. New York yang sedih. September. Tak kutulis lagi baris-baris mengingatmu: Danau di tengah taman. Sepasang angsa. Kasmaran. Di negeri utara. Seorang menanti. Tapi kau tak datang. Di taman ini. Karena… [...]

  • Nanang Suryadi wrote a new blog post: 14 years, 10 months ago

    11:37:56 7/08/2002 Akulah puisi. Kudatangi Paz di malamnya yang ringkih. Kumabukkan ia dengan kata. Hingga dadanya ingin meledak. Saat kuucap selamat malam di pagi yang sebentar kan tumbuh. Ditulisnya aku dengan bahagia: kata, frasa, kalimat, alinea. Bahkan katanya, aku mesti ada, jika ia tak lahir ke dunia. Akulah puisi. Di matanya kuberi…[Read more]

  • Cerpen: Nanang Suryadi Hujan Sore Hari Hujan yang turun sore hari, selalu mengingatkan aku padamu. Kau ingat tiktiknya bersama desau angin, demikian gaib, menghantarkan kita ke batas hari demikian cepat. Ah, aku tahu engkau kan segera mengatakan bahwa aku sangat tergila-gila kepada selarik puisi patah hati yang ditulis si mata merah itu: gerimis…[Read more]