• Sugeng Rianto posted an update: 8 years, 1 month ago

    TEMPO Interaktif, Malang – Dosen Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) Malang Sugeng Rianto berhasil menemukan perangkat simulator bedah virtual tiga dimensi. Alat ini berfungsi untuk membantu dokter melakukan perencanaan bedah, dan membantu mahasiswa berlatih pembedahan serta mempelajari anatomi tubuh.
    Sebagai perencanaan bedah, alat ini bisa membantu dokter menentukan lokasi atau sasaran pembedahan yang tepat. ”Ini untuk menghindari dokter main perkiraan,” kata Sugeng Rianto, Rabu (13/4).

    Sedangkan untuk latihan mahasiswa, simulator bedah ini bisa dipakai sebagai pengganti mayat atau boneka. Ini karena selain mahal, mayat juga sulit didapat. Sedangkan boneka hanya bisa dipakai untuk sekali latihan. ”Harga mayat dan boneka juga mahal,” tutur Sugeng.

    Alat ini menghasilkan gambar mendekati objek nyata karena merupakan visualisasi dari objek nyata. Untuk bisa ditampilkan dalam layar komputer, tubuh manusia terlebih dahulu dipindai dan kemudian direkonstruksi untuk memunculkan gambar tiga dimensi yang sama persis dengan aslinya.

    Tak hanya visualisasi yang sama persis, namun juga tekstur gambar juga nyata. Pemakai simulatir bedah akan merasakan tekstur tubuh gambar seperti asli, misalnya kulit terasa kenyal, otot agak kaku, dan tulang terasa keras. Dengan merasakan tekstur gambar, pemakai simulator akan menekan pisau tidak terlalu dalam dan juga tidak terlalu dangkal saat membedah. ”Kalau sudah sempurna, kulitnya yang dibedah nanti mengeluarkan darah. Ada detail otot dan syarafnya juga tampak tulangnya,” papar Sugeng.

    Alat yang dikembangkan sejak delapan tahu lalu ini terdiri dua bagian. Pertama satu set personal computer (PC) dengan dua layar LCD. Kedua adalah dua properti berupa mouse dan haptic (semacam mouse robot khusus virtual. Bentuknya mirip pena yang terhubung dengan lengan ke sebuah kotak motor listrik). Haptic ini diibaratkan sebagai pisau bedah.

    Sugeng sudah mempresentasikan hasil temuannya ke beberapa universitas dan rumah sakit di Indonesia. Juga di luar negeri seperti Perancis, Rusia dan Amerika Serikat. ” Saya yakin alat ini sangat dibutuhkan bagi dunia kedokteran dan pembelajaran kedokteran. Agar dokter bedah tak hanya mengandalkan insting dan perkiraan saja,” ujarnya.

    BIBIN BINTARIADI

    http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2011/04/13/brk,20110413-327151,id.html