Activity

  • Wahyu Handayani posted an update 5 years, 10 months ago

    PERUBAHAN ANTROPOLOGI BUDAYA DITINJAU DARI SISTEM RELIGI PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI SENDANG BIRU, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR (ANTARA KEPERCAYAAN LOKAL, PENGARUH AGAMA DAN PERAN PEMERINTAH)

    Wahyu Handayani
    (Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan-Divisi Sosial Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Brawijaya)

    Makalah dipresentasikan dalam SEMINAR NASIONAL TAHUNAN V HASIL PENELITIAN PERIKANAN DAN KELAUTAN JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN UGM YOGYAKARTA, 26 JULI 2008

    Abstrak
    Upacara ”PETIK LAUT” merupakan upacara adat yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 27 September, upacara ini merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dibentuk dan dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Sendang Biru. Dengan adanya pengaruh agama dan beberapa kebijakan pemerintah Kabupaten Malang (dalam hal Kebijakan Pariwisata) dapat diketahui adanya perubahan yang significant pada sistem religi di masyarakat Sendang Biru, hal ini dapat dilihat pada pelaksanaan upacara “Petik Laut” mulai dari penetapan hari, tata urutan kegiatan upacara, dan keterlibatan penguasa pemerintah lokal dan kabupaten dalam prosesi upacara serta nilai-nilai tertentu yang dianut masyarakatnya. Namun terdapat juga beberapa hal yang tidak berubah, yaitu: makna utama upacara, keterlibatan dukun/dalang, simbol-simbol upacara, serta lokasi upacara.
    Secara garis besar metodologi penelitian ini memakai metode gabungan (mixing method) yang terdiri dari metode kualitatif dengan data yang dianalisis dari studi literatur serta dari lapang, metode disesuaikan dengan fokus masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini, hasil yang diperoleh menggambarkan secara mendalam peristiwa perubahan budaya yang diwakili oleh sistem religi di masyarakat pesisir Pantai Sendang Biru. Data yang diperoleh berbentuk verbal, simbol, ekspresi, nilai-nilai, dan informasi/data lain yang penting.
    Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu acuan bagi pemerintah dalam pembuatan kebijakan lebih lanjut yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat lokal yang berbasis pada antropologi budaya, selain itu diharapkan terdapat penelitian serupa di tempat yang berbeda sehingga potret antropologi budaya dengan fokus sistem religi dapat di-peta-kan di seluruh wilayah Indonesia.

    Kata kunci: Sendang Biru, Petik Laut, Sistem Religi, Perubahan budaya

    Pengantar

    Perikanan mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan perekonomian nasional, pembangunan perikanan harus mengacu pada pembangunan yang berkelanjutan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang. Hal tersebut mengandung makna bahwa pembangunan suatu kawasan akan bersifat berkesinambungan (sustainable), jika berbicara tentang pembangunan yang berkesinambungan maka masyarakat adalah salah satu titik sentral yang membutuhkan perhatian khusus dalam pembangunan. Masyarakat perikanan di wilayah pesisir merupakan masyarakat yang unik dengan budaya lokal yang beragam, budaya lokal yang beragam ini merupakan ciri khas dari masing-masing daerah.
    Keberagaman budaya yang dimiliki oleh masyarakat perikanan di wilayah pesisir merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan besar apabila dikelola dengan baik, misal: potensi di bidang pariwisata, sebagai bahan masukan untuk manajemen konflik, menjadi pintu masuk pembangunan yang lebih mengedepankan kearifan lokal, dan lain sebagainya. Saat ini, dari berbagai macam penelitian dibuktikan bahwa telah terjadi perubahan dalam budaya masyarakat (termasuk perubahan dalam sistem religi) sebagai akibat masuknya pembaharuan atau yang lebih dikenal dengan nama pembangunan, persoalan utamanya terletak pada permasalahan dimana pelaksana pembangunan tidak melihat unsur agama tradisional sebagai hal yang perlu dikaji dan dipelajari lagi (hal ini dimungkinkan oleh penilaian akan kepercayaan tradisional yang bersifat harfiah), sehingga jarang sekali orang yang berada di ranah ilmiah mau memahami pengetahuan yang bersifat harfiah tersebut serta jarang diantara mereka yang mau menterjemahkannya ke dalam bahasa ilmiah yang dapat diyakini kebenarannya (Dove, 1985). Bahwa agama dan kebudayaan menyentuh nilai-nilai terdalam dari manusia, yaitu nilai-nilai ontologis dan eksistensial, nilai estestis serta nilai emotif, hal ini berbeda dari nilai-nilai rasional, logis, matematis. Agar perubahan dalam kebudayaan yang terjadi dapat serasi dan selaras dengan kehidupan kemasyarakatan maka harus berlandaskan pada warisan budaya yang sebenarnya telah dimiliki oleh bangsa kita dengan ditopang oleh budaya modern melalui ilmu dan teknologi.
    Pembahasan tentang perubahan budaya diawali dengan pengertian kebudayaan itu sendiri, menurut Poerwowidagdo dalam Pattisina & Sairin (1990) p: 345 bahwa kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi daya rakyat Indonesia. Kebudayaan asli (beserta perkembangannya) di daerah-daerah seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
    Kluckhohn (1953) dalam Koentjaraningrat (2005) menyatakan bahwa Inti pokok dari kebudayaan universal terdapat tujuh buah: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, serta kesenian. Menurut Kuntowijoyo (2002: 7), kebudayaan itu sendiri terdiri dari nilai dan simbol. Nilai-nilai budaya tidak kasat mata, sedangkan simbol budaya yang merupakan perwujudan dari nilai itulah yang kasat mata. Nilai menentukan pilihan-pilihan, nilai-nilai budaya ini senantiasa hadir dalam setiap perwujudan.
    Wiyata (2003) dalam Kusnadi (2004: 93) menyatakan bahwa mengkaji tentang kemiskinan masyarakat nelayan merupakan tema polemik yang memiliki nilai strategis dari berbagai aspek. Pertama, secara kuantitatif, kajian tentang masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir masih sangat terbatas (langka), jika dibandingkan dengan masyarakat petani atau masyarakat perkotaan. Kajian terhadap masyarakat nelayan ini memiliki nilai yang sangat berarti untuk kepentingan pembangunan masyarakat nelayan. Kedua, kelangkaan kajian tersebut sangat ironis dikaitkan dengan sifat negara kita sebagai negara maritim yang terbesar di dunia. Ketiga, mengkaji masyarakat nelayan bukan persoalan yang mudah, daerah pantai yang panas, pemukiman nelayan yang padat dan sesak, dan kondisi masyarakatnya yang dianggap ”keras”.
    Adalah tantangan yang menyenangkan sekaligus sulit dalam mengkaji masyarakat pesisir, terutama ketika berbicara tentang budaya yang mereka jalankan dan mereka yakini kebenarannya, namun kesulitan ini harus dilaksanakan demi sebuah tujuan yang besar yaitu mengangkat sistem religi sebagai salah satu kebudayaan masyarakat agar ke depan peta antropologi masyarakat pesisir dapat diwujudkan.

    Metodologi

    Metode Ilmiah dari suatu cabang ilmu pengetahuan adalah semua cara yang dapat digunakan dalam ilmu tersebut untuk mencapai suatu kesatuan ilmu pengetahuan. Menurut Koentjaraningrat (2005: 12-13) bahwa sistem religi diwujudkan dalam sistem keyakinan dan gagasan-gagasan mengenai Tuhan, dewa-dewa, ruh-ruh halus, neraka surga, dan lain-lain; selain itu mewujud juga dalam berbagai bentuk upacara serta benda-benda suci yang disakralkan. Fokus penelitian ini adalah pembahasan tentang sistem religi yang berfokus pada upacara ”Petik Laut” yang diselenggarakan di Sendang Biru. Koentjaraningrat (2005: 27), juga menyatakan bahwa untuk antropologi budaya pengumpulan data berkisar mengenai kejadian dan gejala masyarakat dan kebudayaan untuk diolah secara ilmiah. Dalam kenyataan, aktifitas pengumpulan data di sini terdiri dari berbagai metode observasi, mencatat, mengolah, dan mendeskripsikan fakta-fakta yang terjadi dalam suatu masyarakat yang hidup. Secara garis besar metodologi penelitian ini adalah memakai metode gabungan (mixing method) yang terdiri dari metode kualitatif dengan data yang dianalisis dari studi literatur serta dari lapang, metode disesuaikan dengan fokus masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini, hasil yang diperoleh menggambarkan peristiwa perubahan budaya yang diwakili oleh sistem religi di masyarakat pesisir Pantai Sendang Biru. Data yang diperoleh berbentuk verbal, simbol, ekspresi, nilai-nilai, dan informasi/data lain yang penting.
    Dalam Singarimbun (1987) dan Faisal (1999) dinyatakan bahwa teknik pengumpulan data memegang peranan penting dalam keakuratan penelitian. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut: (1). Teknik wawancara, wawancara adalah cara mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden. Dalam wawancara alat pengumpul datanya disebut pedoman wawancara. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan indepth interview untuk mendapatkan keterangan yang sebanyak-banyaknya pada responden, dilakukan pula dengan memakai sistem bebas dengan beberapa pertanyaan yang mengacu pada tujuan pokok pada penelitian ini. Yang menjadi responden dalam wawancara ini adalah orang-orang yang mewakili komponen sebagai berikut: tokoh masyarakat dari beberapa suku, tokoh agama Islam, tokoh agama Kristen, aparat pemerintah, masyarakat lokal, serta masyarakat pendatang. Pemilihan responden didahului dengan pencarian informasi dalam waktu yang lama semenjak peneliti bersentuhan dengan masyarakat Sendang Biru. (2). Teknik Observasi, teknik ini menggunakan pengamatan atau penginderaan langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau perilaku. Data yang dikumpulkan bisa berupa kondisi, situasi, proses dan aktivitas. (3). Teknik dokumentasi, alat pengumpulan datanya disebut pencatatan dokumentasi dan sumber datanya berupa catatan, catatan ini dapat berupa rekaman, foto, dan mengakses sumber dokumen yang tersedia sebelumnya.
    Pengamatan Ilmiah tergantung pada berbagai unsur lain dalam proses ilmiah bukan bertujuan menghindari ungkapan bahwa mereka sebagian juga terlepas satu sama lain. Sesungguhnya hal yang sama harus dikatakan pada semua komponen informasi, setiap kontrol metodologis dan transformasi informasi, namun juga tidak sepenuhnya tergantung pada yang lain (Walter L. Wallace. 1990, p: 25). Pengamatan ilmiah yang dalam penelitian ini adalah pengamatan terhadap siapa mengungkapkan apa, bagaimana ungkapan tersebut disampaikan, dan mengapa hal tersebut diungkapkan. Sebagai contoh adalah pada saat responden memaparkan sesuatu maka pewawancara harus bisa melihat hidden agenda yang sebenarnya dikandung dalam maksud ungkapan/paparan tersebut. Untuk mendapatkan responden yang sesuai, peneliti melakukan survey awal kepada penduduk Sendang Biru secara umum, guna mengumpulkan informasi tentang tokoh-tokoh agama yang berkaitan dengan prosesi upacara “Petik Laut”, tokoh masyarakat yang bersentuhan dengan kegiatan tersebut, beberapa masyarakat umum yang mau mengungkapkan pendapatnya secara lugas tentang persepsi mereka tentang prosesi upacara “Petik Laut”, serta aparat pemerintah.
    Pada penelitian ini, jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari responden, meliputi sejarah petik laut, prosesi petik laut, pendapat beberapa responden yang berkaitan dengan dampak positif dan dampak negatif prosesi upacara “Petik Laut”, serta pendapat mereka tentang kepercayaan terhadap kekuatan ghaib yang ada disekitar mereka (data tentang perubahan sistem religi). Sedangkan data sekunder adalah data yang dikumpulkan/diperoleh dari data yang sudah ada sebelumnya dan didapatkan melalui dokumen-dokumen yang sudah dikumpulkan sebelumnya (Usman dan Akbar, 2006). Data-data sekunder diperoleh dari (Pusat Pendaratan Ikan) PPI Pondok Dadap-Sendang Biru dan kantor dusun.

    Hasil dan Pembahasan

    1. Sendang Biru
    Dusun Sendang Biru secara administratif merupakan dusun yang menjadi bagian dari Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur, yang terletak ± 77 km di sebelah selatan kota Malang. Dusun Sendang Biru merupakan daerah pesisir pantai yang berhadapan dengan Pulau Sempu. Dusun Sendang Biru memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
    Sebelah utara : Desa Kedungbanteng
    Sebelah selatan : Samudra Hindia
    Sebelah timur : Dusun Tambakrejo
    Sebelah barat : Desa Sitiarjo
    Sedangkan letak geografisnya adalah 08°37’ – 08°41’ LS dan 112°35’ – 112°43’ BT dengan ketinggian 0-100 m di atas permukaan laut. Topografi kawasan Sendang Biru berupa daerah dengan bukit-bukit kecil dalam jumlah yang cukup banyak yang semula merupakan daerah dengan tutupan hutan alami. Pantai yang dimiliki dusun Sendang Biru merupakan pantai berpasir dengan beberapa bagian merupakan pantai berkarang. Rata-rata suhu di daerah ini berkisar antara 24°C sampai dengan 27°C dengan kelembaban udara rata-rata 70%. Curah hujan di dusun Sendang Biru berkisar antara 60–110 mm per bulan dengan jumlah rata-rata hari hujan 118,1 hari.
    Dusun Sendang Biru memiliki luas 268 Ha yang terbagi menjadi sawah dan ladang seluas 200 Ha, perumahan seluas 50 Ha, hutan seluas 10 Ha dan selebihnya yang masing-masing berkisar antara 0,5-2,5 Ha digunakan sebagai perkantoran, pasar, tempat rekreasi dan sebagainya. Posisi terletak di pantai selatan Jawa, berhadapan secara tidak langsung dengan Samudera Indonesia yang terkenal memiliki gelombang besar dan arus yang kuat. Letak Sendang Biru terlindung oleh Pulau Sempu yang membuat gelombang dan arus di sekitar PPI Pondokdadap menjadi relatif tenang dan sangat menguntungkan bagi pendaratan ikan dan tempat bersandar perahu. Selain itu, sebagian kawasan pantai Sendang Biru juga dapat digunakan sebagai tempat wisata karena masih memiliki keindahan bawah laut berupa terumbu karang dan pantai dengan hamparan pasir halus serta mangrove (Laporan Potensi Desa, 2007).
    Keadaan geografis ini sebenarnya memiliki pengaruh terhadap pola berpikir dan bertindak pada masyarakat, meskipun pengaruhnya tidak terlihat secara significant. Salah satu contoh pengaruh kondisi geografis terhadap pola berpikir dan bertindak pada masyarakat dapat dibuktikan dengan adanya perbedaan karakter/kepribadian masyarakat pantai Utara Jawa yang lebih santun jika dibandingkan dengan karakter/kepribadian masyarakat pantai Selatan Jawa yang lebih keras, hal ini sebenarnya sedikit banyak terpengaruh oleh kondisi alam yang mereka hadapi sehari-hari. Pantai Utara Jawa memiliki ombak yang lebih tenang dan landai jika dibandingkan dengan kondisi ombak yang ada di Pantai Selatan Jawa, sedangkan masyarakat Pantai Selatan Jawa terbiasa menghadapi kondisi alam yang lebih tidak bersahabat dibandingkan dengan masyarakat Pantai Utara Jawa sehingga memunculkan watak keras dalam kehidupan keseharian mereka. Hal tersebut dipertegas dalam tulisan Soja, 1981 dalam Forbes, 1986: 153 yang menyatakan hubungan antara pusat dan pinggiran (bahwa daerah pesisir utara Pantai Jawa lebih dekat dengan pusat kekuasaan dan lebih mudah diakses berhubung dengan infrastruktur yang dimiliki) bahwa pembangunan regional yang tidak merata, pertama-tama merupakan suatu cerminan lingkungan alam dan ruang fisik mentah dari eksistensi manusia. Untuk lebih lanjut dapat menggambarkan bahwa pola-pola diferensiasi regional yang dihasilkan dapat berpengaruh terhadap perilaku masyarakatnya.
    Berdasar Laporan Potensi Desa Tambakrejo (2004) dinyatakan bahwa data Penduduk di daerah Sendang Biru yang beragama Kristen 6.575 jiwa, dan beragama Islam 712 jiwa, Dari data tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas penduduk Tambakrejo beragama Kristen. Data mengenai pembagian penduduk berdasarkan agama yang dianut belum didapatkan. Data tentang penduduk desa Tambakrejo sedikit banyak dapat menggambarkan kondisi secara umum di Sendang Biru.
    Masyarakat nelayan selalu mengalami proses perubahan, selama proses perubahan tersebut masyarakat selalu beradaptasi pada lingkungan fisik dan sosial budayanya. Dalam proses itu dapat dicapai sebuah keseimbangan sementara atau mengalami fase ekuilibrium. Beberapa tahapan perkembangan yang dimulai dari meramu (Food Gather), berburu dan perikanan (Hunting and Fishing), padang gembala (Pastoral Nomad) atau Herding, pertanian (Agriculture), industrial sampai pada masyarakat kota (urban), dialami manusia sebagai jawaban terhadap lingkungan yang sedang berubah. Hal menarik dalam perkembangan masyarakat nelayan adalah bahwa meskipun masyarakat nelayan juga mengalami perkembangan evolusi mengikuti tahapan tersebut, namun kenyataannya mereka masih selalu terikat kepada habitatnya, sehingga perubahan habitat akan menyebabkan daya adaptasi menjadi sangat terganggu. Perilaku dalam pengelolaan sumberdaya berdampak pada perubahan lingkungan. Kemampuan beradaptasi berbeda sesuai dengan daya yang dimiliki, sehingga dampak perubahan tersebut dapat menyebabkan kelompok manusia terbagi menjadi empat kategori, yaitu (a) manusia yang mampu berkembang, (b) manusia yang tetap bertahan, (c) manusia yang memilih berpindah dan (d) manusia yang punah atau hidup dalam kesulitan (Susilo dan Handayani, 2006). Seperti yang terpapar dalam tulisan tersebut, masyarakat di wilayah Pesisir Pantai Sendang Biru sebagian besar (terutama etnis Madura, Batak dan Ternate) adalah pendatang yang dalam istilah lokal disebut nelayan Andhon, termasuk dalam golongan manusia yang memilih berpindah tempat untuk mencari ikan di wilayah Sendang Biru.

    2. Sejarah Petik Laut
    Petik Laut merupakan sebuah kegiatan budaya yang sebelumnya tidak dikenal oleh masyarakat Sendang Biru. Munculnya acara “Petik Laut” sendiri bermula dari usulan beberapa warga, terutama nelayan Andhon (pendatang) yang berasal dari berbagai macam daerah. Kegiatan budaya ini muncul pertama kali sekitar tahun 1989, yaitu pada tanggal 27 September 1989, dengan tujuan untuk mengajak masyarakat untuk senantiasa mengingat dan meningkatkan rasa syukur karena telah diberi anugerah yang sangat besar berupa hasil laut yang melimpah, sekaligus ajang silaturahmi antara masyarakat lokal masyarakat pendatang. Para pendatang adalah kelompok masyarakat berasal dari berbagai daerah (misal Puger, Jember; Muncar Banyuwangi,; Prigi, Trenggalek; dan lain-lain) yang mempunyai peran sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sendang Biru. Mereka yang berjasa memperkenalkan beberapa teknologi baru berkaitan dengan penangkapan ikan.
    Tentang penentuan tanggal pelaksanaan prosesi ”Petik Laut”, berkaitan dengan adanya peristiwa bersejarah pada tahun 1980. Di tanggal yang sama, yaitu hari terjadinya peresmian Tempat Pelelangan Ikan ”Pondok Dadap” di Sendang Biru oleh Bupati Suwignyo (Bupati pada waktu itu). Sebagai bentuk penghargaan terhadap moment peresmian tersebut maka masyarakat dengan dimotori oleh beberapa tokoh melakukan rembugan (musyawarah kecil) dalam rangka menetapkan tanggal akan dilaksanakannya prosesi ”Petik Laut”, sehingga masyarakat akan selalu mengingat bahwa pada tanggal tersebut merupakan hari lahir tempat Pelelangan Ikan di wilayah tersebut. Kegiatan “Petik Laut “ pertama kali diselenggarakan dengan menggunakan dana iuran masyarakat, hal ini menjadi penting untuk dibahas karena berkaitan dengan penentuan nama kegiatannya. Karena pada waktu itu yang paling banyak menyumbang iuran adalah masyarakat dari Muncar, maka untuk menghormati peran mereka maka diambillah nama kegiatan sejenis di Muncar (bernama Petik Laut juga) untuk diajadikan nama kegiatan di Sendang Biru.
    Mengenai beberapa simbol pelengkap yang disertakan dalam upacara, sebenarnya terinspirasi dari beberapa kegiatan budaya sejenis yang ada didaerah lain sesuai dengan sumbang saran dari nelayan andhon yang daerahnya juga memiliki kegiatan yang sama. Setelah terjadi kesepakatan pada acara rembugan tersebut, maka diadakanlah untuk pertama kalinya prosesi upacara “Petik Laut” pada tanggal 27 September 1989.

    3. Prosesi Petik Laut
    Selama kegiatan “Petik Laut” terdapat beberapa sub kegiatan yang merupakan rangkaian dari acara prosesi upacara “Petik Laut”, kegiatan-kegiatan tersebut dikemas menjadi acara yang sarat dengan nuansa budaya namun juga tak lepas dari nuansa keagamaan yang dianut oleh penduduk Pesisir Pantai Sendang Biru (yaitu: Islam dan Kristen). Kegiatan-kegiatan tersebut diawali pada empat (4) hari menjelang dilaksanakannya prosesi inti ”Petik Laut”, acara yang dilaksanakan dibagi berdasarkan hari yang dilalui. Hari Pertama (tanggal 23 September), meliputi: pentas seni Dangdut, diselenggarakan di sebuah panggung terbuka pada pagi sampai menjelang sore hari. Pengunjung yang berada di depan panggung, bebas menikmati penyajian kesenian ini dengan ekspresi seni mereka masing-masing, biasanya ditunjukkan dengan kegiatan ber-’joged’ bersama penyanyi yang sedang menyanyi. Penyanyi dangdut yang sedang nge-top dan memiliki banyak fans di tingkat lokal Jatim yang didatangkan di acara tersebut, umumnya mereka berasal dari luar daerah Sendang Biru.
    Hari Kedua (tanggal 24 September), pelaksanaan kegiatan pentas seni juga, yaitu: (1) pentas Campur Sari biasanya mendatangkan grup musik yang terkenal dari luar daerah, namun panitia juga memberi kesempatan bagi penduduk lokal untuk unjuk kebolehan dalam acara tersebut, tujuan kegiatan ini untuk memberikan kesempatan kepada penduduk dan para pengunjung untuk menikmati musik kegemaran mereka, dan (2) pentas Kendang Kempul, dilaksanakan setelah pentas Campur Sari, kegiatan acara pentas seni Kendang Kempul ini memiliki tujuan yang sama dengan pentas Campur Sari, yaitu untuk memberi kesempatan kepada penduduk dan para pengunjung menikmati musik yang mereka gemari. Hari ketiga (tanggal 25 September), merupakan hari khusus untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dari ketaatan penduduk dalam menjalankan agama mereka, seperti yang diungkapkan pada bagian depan tulisan ini yang menyatakan bahwa penduduk Sendang Biru terdiri dari dua kelompok, yaitu agama Islam dan agama Kristen. Pada hari ketiga tersebut, pemeluk agama Islam melaksanakan kegiatan ibadah agama Islam di masjid dengan diadakannya khatmil Qur’an (membaca Al-Qur’an 24 juz, secara bergantian) pada pagi harinya dan ini biasanya berlangsung sampai sore hari, untuk malam harinya diadakan pengajian umum (biasanya menghadirkan kyai atau ustad terkenal untuk memberikan tauziah/kata-kata bijak untuk mengajak pada kebaikan). Sedangkan pemeluk agama Kristen melaksanakan kegiatan ibadah mereka dengan melaksanakan Kebaktian Bersama di gereja, prosesi kebaktian yang dilalui adalah sebagai berikut: (1) do’a pembuka, (2) nyanyian pujian, (3) ibadah, yang didalamnya berisi ceramah agama dari pendeta biasanya mengambil tema: bersyukur tentang nikmat Tuhan, (4) do’a penutup.
    Selanjutnya pada hari keempat (tanggal 26 September), masyarakat menyelenggarakan suatu acara ruwatan wayang kulit yang akan dimainkan pada malam harinya. Pagelaran wayang kulit ini diselenggarakan semalam suntuk, digelar di tempat yang keesokan harinya akan diadakan prosesi acara inti “Petik Laut”. Ruwatan wayang kulit ini merupakan ajang hiburan tersendiri bagi masyarakat namun sekaligus juga merupakan sebuah simbol kegiatan religi yang banyak dianut oleh masyarakat Jawa. Seperti yang diungkap oleh Kuntowijoyo (2002) bahwa ruwatan adalah sebuah tradisi untuk menghilangkan bala bencana lewat upacara dan wayangan dengan lakon Ruwatan Murwakala.
    Tibalah saat pelaksanaan prosesi upacara ”Petik Laut”, yaitu pada tanggal 27 September. Pada hari itu kegiatan diawali dengan penampilan tarian yang berjudul “Sakera”, tarian ini diperagakan oleh sekelompok laki-laki dan perempuan yang berpakaian madura. Penari laki-laki membawa senjata khas madura yaitu “clurit”, mereka menari dengan gagah sambil mempertontonkan keterampilan mereka memainkan senjata, sedangkan penari perempuan menari dengan rancak seiring musik yang dimainkan, tarian ini merupakan ajang kesenian untuk mewadahi aspirasi seni sebagian masyarakat yang bersuku Madura. Untuk selanjutnya acara dilaksanakan dengan membawa seorang gadis cantik diatas kepala patung garuda sebagai simbol dari “Nyi Roro Kidul” dan diikuti para pengiringnya menuju tempat upacara dan dibelakangnya menyusul arak-arakan berbagai perlengkapan lainnya (seperti Tumpeng, sajen, dan lain-lain). Acara dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia (sebagai laporan penyelenggaraan) dan diteruskan dengan sambutan inti pada acara tersebut, yaitu sambutan dari Kepala Pemerintah Kabupaten atau yang mewakilinya (Bupati atau stafnya). Inti dari setiap sambutan pada dasarnya adalah mengajak masyarakat untuk ikut mensyukuri semua karunia yang telah diberikan oleh Tuhan YME, namun juga tidak menutup kemungkinan terselip beberapa pesan pemerintah yang berkaitan dengan program pembangunan yang akan dilaksanakan di Sendang Biru. Setelah sambutan usai maka acara selanjutnya adalah pembacaan do’a, yang dibacakan oleh pegawai Departemen Agama dari Kabupaten Malang, pembacaan do’a ini biasanya memakai bahasa Indonesia, namun juga diselingi dengan do’a berbahasa Arab tergantung dari rancangan do’a yang dibawa oleh pegawai Departemen Agama tersebut. Acara selanjutnya adalah prosesi inti dari kegiatan ini, yaitu prosesi larung atau labuh. Prosesi ini dilaksanakan dengan membawa perlengkapan upacara ke tengah laut menuju tempat yang telah ditentukan, biasanya tempat ditengah dua buah pulau karang berjajar yang bentuknya menyerupai gerbang.
    Mengenai perlengkapan Upacara dapat dideskripsikan sebagai berikut: (1). Seorang gadis yang masih suci, kemudian dirias untuk selanjutnya menjadi simbol “Nyi Roro Kidul”, biasanya oleh sebagian masyarakat disebut sebagai “Manten” (2). Patung Garuda, yang merupakan tunggangan bagi gadis tersebut, yang selanjutnya ditandu oleh beberapa orang menuju tempat upacara, (3). Pengiring, jumlahnya sekitar empat pasang laki-laki dan perempuan, pasangan inilah yang menjadi simbol kelompok pengiring bagi “Nyi Roro Kidul”, (4). Tumpeng, yang terbuat dari nasi kuning, dibentuk menyerupai gunung yang tinggi, menurut filsafat yang dipercayai oleh sebagian masyarakat bahwa agar persembahan tersebut dapat segera mencapai langit karena ketinggian tumpeng tersebut. (5). Berbagai macam sayur-sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak yang menyimbolkan rasa syukur atas semua berkah di bidang pertanian dan peternakan selain bidang perikanan yang selama ini digeluti oleh masyarakat. (6) Perahu rakit, sebagai wadah membawa persembahan-persembahan yang dipersiapkan menuju ke gerbang yang telah ditentukan sebagai tempat persembahan diantarkan. (7) Miniatur perahu, yang juga turut dilarung bersama dengan persembahan yang lainnya. Berikut adalah dua buah foto yang mendokumentasikan kegiatan mengarak perlengkapan upacara dan kegiatan larung atau labuh ke tengah laut. Perlengkapan nomer empat sampai tujuh biasa disebut oleh masyarakat umum sebagai sesajen.

    4. Perubahan Antropologi Budaya Ditinjau dari Sistem Religi

    Secara umum, kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan, ide, yang dimiliki oleh suatu kelompok manusia, yang berfungsi sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. Kebudayaan bukanlah sesuatu yang diterima manusia secara ascribed, tetapi dia diperoleh melalui suatu proses belajar, proses ini dialami baik secara sadar maupun tidak. Proses belajar dalam konteks kebudayaan, bukan hanya suatu proses internalisasi dari sistem “pengetahuan” yang diperoleh melalui sistem sekolah, tetapi juga didapatkan dari proses belajar pelbagai pengalaman hidup dari lingkungan sosialnya (Sairin, 2002)
    Dalam kategori yang dipaparkan oleh Koentjaraningrat (2005) yang telah dipaparkan dalam pengantar maka dapat ditarik bahwa “Petik Laut” merupakan salah satu perwujudan sistem religi yang berbentuk upacara yang diselenggarakan masyarakat secara rutin, yang selanjutnya dipahami sebagai sistem kebudayaan masyarakat setempat dan kemudian diinternalisasikan pada generasi selanjutnya untuk dilanjutkan karena dipahami oleh masyarakat Sendang Biru bahwa upacara ini adalah “baik”, ditinjau dari tujuan dan prosesinya yang menjadi ajang hiburan tersendiri atau tempat rekreasi jiwa bagi masyarakat setelah selama ini mereka bekerja keras mencari ikan. Pelaksanaan prosesi upacara “Petik Laut” ini dilaksanakan pada tanggal 27 September, seperti telah dikemukakan di depan tanggal tersebut adalah merupakan hari jadi Tempat Pendaratan Ikan Pondok Dadap. Hal ini keluar dari pakem pelaksanaan kegiatan upacara religi secara umum yang biasanya dianut oleh masyarakat umum, yaitu pada tanggal 1 Syuro. Penentuan tanggal tersebut sebenarnya memiliki dampak positif terhadap pelaksanaan prosesi upacara “Petik Laut” itu sendiri, dimana jika mengikuti pakem tanggal 1 Syuro ada kemungkinan kondisi penangkapan ikan sedang mengalai laib (musim paceklik).
    Kita dapat melihat perubahan yang terjadi pada sistem religi ini setelah mengetahui tentang pendapat dan persepsi mereka tentang “Petik Laut”. Dari data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat dapat melihat bahwa perlengkapan yang ada dalam prosesi upacara tersebut hanyalah untuk acara hiburan saja, namun kadang terdengar juga suara perkataan masyarakat yang masih menyakini adanya kekuatan gaib Nyi Roro Kidul yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di masa mendatang, yang dapat diramalkan berdasarkan simbol-simbol yang muncul dalam acara tersebut, sebagai contoh jika yang dipakai untuk memberangkatkan rakit wadah sesajen adalah kapal jenis tertentu, maka yang kelak akan sering mendapat ikan banyak adalah perahu sejenis yang dipakai tersebut (misal: sekoci, payang, jukung atau kunting). Selain itu terdapat juga semacam mitos yang dikaitkan dengan gadis suci yang menyimbolkan “Nyi Roro Kidul”, bahwa apabila gadis tersebut pada saat pelaksanaan upacara berubah wajahnya menjadi semakin cantik maka sebagian masyarakat menyakini bahwa persembahan yang mereka berikan diterima oleh sang penguasa laut selatan, demikian pula sebaliknya, jika berubah menjadi semakin jelek maka pertanda bahwa “Nyi Roro Kidul” tidak berkenan terhadap persembahan mereka, biasanya persepsi ini dimiliki oleh mereka yang tidak begitu kuat memahami dasar masing-masing agamanya (baik Islam maupun Kristen)
    Sebenarnya jika ditinjau ulang tentang sejarah munculnya prosesi upacara “Petik Laut”, terutama berkaitan dengan tujuan awal diselenggarakannya kegiatan tersebut, mitos yang muncul dalam anggapan masyarakat tersebut tidak seharusnya ada. Tetapi harus diingat bahwa upacara adat apapun (terutama keagamaan) belum lengkap kalau tidak dihinggapi dan diyakini oleh emosi keagamaan/kepercayaan yang membuat upacara itu sebagai aktivitas yang sakral atau keramat yang penuh dengan mitos-mitos (Usman AB. 2004: 207). Kalau ditarik lebih lanjut maka hal tersebut tidak terlepas bahasannya dengan relasi antara agama dan kebudayaan masyarakat, Damami (2002: 9) menyebutkan bahwa kalau dikategorikan secara umum, maka hubungan antara “agama” dan “sistem nilai kebudayaan” akan terjadi tiga kemungkinan: (1) “Agama” dimenangkan terhadap “sistem nilai kebudayaan” setempat, (2) “Agama” dikalahkan oleh “sistem nilai kebudayaan” setempat, dan (3) “Agama” dan “sistem nilai kebudayaan” dikompromikan, dalam arti: berdiri sendiri tanpa saling berpengaruh, sintesis, dan sinkretis. Berdasar data yang didapatkan dari penelitian ini maka gejala yang muncul pada perubahan yang terjadi di Sendang Biru sesungguhnya mengacu pada point ketiga, yaitu: “Agama” dan “sistem nilai kebudayaan” dikompromikan, dalam arti: berdiri sendiri tanpa saling berpengaruh. Mengenai penjelasannya dapat ditelaah dari berbagai pendapat tokoh agama-agama yang ada di Sendang Biru, pendapat masyarakat umum, dan juga pendapat aparat pemerintah.

    “Petik Laut” dan Tokoh Islam
    Berkaitan dengan prosesi upacara “Petik Laut” dan tokoh Islam, dari survey awal yang dilakukan didapatkan satu nama yang layak menjdi responden dalam penelitian ini yaitu: Bapak Haji Muhammad Atmo Ismail (Pak Haji Atmo/Abah Atmo). Pak Haji Atmo merupakan salah satu tokoh agama Islam yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Sendang Biru, bahkan peranan tersebut menyebar sampai ke wilayah kabupaten Malang, hal ini dibuktikan dengan disertakannya beliau menjadi salah satu anggota Kelompok Peduli Syari’ah di Malang, yang anggotanya terdiri dari para habaib/habib, masyayih, kyai dan alim ulama, selain sebagai tokoh dalam agama Islam sebenarnya beliau termasuk juga sebagai orang yang menggagas adanya kegiatan budaya petik laut di wilayah Sendang Biru pada awal-awal diadakannya gelar budaya tersebut, termasuk tentang penciptaan simbol-simbol yang diadakan dalam prosesi upacara “Petik Laut”, hal ini didasarkan pada pengalaman panjang beliau selama berada di beberapa daerah di pantai-pantai Jawa. Disamping itu peran beliau juga sangat menonjol dalam kegiatan perekonomian perikanan. Beliau saat ini adalah seorang juragan darat dan ketua kelompok nelayan Sendang Biru yang bernama Rukun Jaya, kelompok ini membawahi nelayan pemilik perahu payang, jukung dan sekoci. Beliau merupakan orang yang ahli merancang dan memperhitungkan pembuatan kapal serta alat tangkapnya.
    Semua hal yang tertulis sebelumnya sebenarnya berkaitan dengan sejarah beliau pribadi, bahwa beliau berasal dari Puger (Jember) yang termasuk sebagai orang yang pertama-tama memperkenalkan alat tangkap modern kepada masyarakat Sendang Biru sehingga banyak yang mengadopsinya. Masyarakat Sendang Biru sendiri pada awalnya belum begitu mengenal taknologi penangkapan ikan secara modern. Pada awal beliau menginjakkan kaki pertama kali di Sendang Biru sebenarnya adalah karena kebetulan saja, hal ini bermula dari sebuah cerita orang tua yang menyatakan bahwa ada pantai yang bernama Sendang Biru maka beliau bersama 1 temannya, yang bernama Nasuha, pada tanggal 22 Juli 1969 dengan mengunakan perahu jukung membuktikan keberadaan pantai tersebut. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke beberapa daerah hingga pada tahun 1977 lantas beliau kembali berada di Renggosono (Trenggalek) selama 4 tahun, kemudian 1982 beliau kembali lagi ke Jember dan bekerja sebagai nelayan dan jasa transportasi laut ke Sendang Biru. Mulai tahun 1983 beliau menetap di Sendang Biru dan bertempat tinggal tidak jauh dari Pantai Wisata, kemudian baru pada tanggal 27 Agustus 1987 beliau hijrah ke rumah beliau yang sekarang ini, di dekat TPI Pondok Dadap, Sendang Biru.
    Dalam pandangan beliau sebagai seorang muslim yang baik, sebenarnya prosesi upacara “Petik Laut” lebih merupakan sarana ungkapan syukur masyarakat kepada Allah SWT, karena telah dilimpahi banyak rejeki yang berasal dari laut berupa ikan. Dengan adanya rangkaian kegiatan yang berupa khatmil Qur’an dan pengajian umum maka masyarakat yang beragama Islam memiliki wadah tersendiri untuk pengungkapan rasa syukur yang sesuai dengan syari’ah agama Islam. Dalam rangkaian kegiatan ini lebih ditekankan tentang pentingnya rasa syukur, karena dengan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT maka kita senantiasa mengingat diri kita sebagai makhluk-Nya.
    Mengenai pandangan Pak Haji Atmo tentang simbol-simbol yang ada pada prosesi upacara “Petik Laut”, menurut beliau simbol-simbol itu sebenarnya hanyalah manifestasi dari rasa seni saja, dan itu tidak boleh dihubungkan dengan sesuatu hal di luar syari’at agama Islam. Karena sesungguhnya harus diyakini hanya Allah SWT yang sesungguhnya patut disembah dan diyakini memiliki kekuatan tunggal sebagai pemberi rejeki pada seluruh makhluk di dunia. Tentang dampak negatif yang dapat timbul sebagai akibat dari kegiatan prosesi upacara “Petik Laut” sebenarnya lebih ke arah pemborosan keuangan, namun hal ini bisa ditolerir jika dikaitkan dengan peran rekreatif yang ada dalam kegiatan tersebut bagi warga yang telah bekerja keras di laut yang ganas selama ini. Berkaitan dengan dampak sistem religi yang dapat muncul, sebenarnya memang harus diantisipasi dengan penanaman konsep keagamaan yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama Islam, dan itu dapat dilakukan salah satunya dengan penyelenggaraan khatmil Qur’an dan pengajian umum.
    Beliau ke depan berharap agar prosesi upacara “Petik Laut” itu lebih diarahkan pada kegiatan budaya dan wisata yang nantinya dapat mengangkat harkat kehidupan masyarakat Sendang Biru secara umum, mulai dari ekonomi sampai pada kehidupan sosial yang lainnya.

    Petik Laut dan Tokoh Kristen
    Dari tokoh agama Kristen, berdasar survey didapatkanlah nama Bpk. Saptoyo, Pak Saptoyo adalah tokoh Kristen yang menjadi pengurus di gereja di Sendang Biru. Peranan beliau dalam bidang keagamaan sangat menonjol, terutama dalam hal pembinaan pada para generasi muda Kristen di wilayah Sendang Biru. Dalam pandangan beliau tentang prosesi upacara “Petik Laut” adalah sebagai berikut: bahwa sebelum tahun 1989 sebenarnya belum ada kegiatan budaya yang bernama ”Petik Laut”. Berbicara tentang budaya lokal sebenarnya prosesi upacara “Petik Laut” pada saat tidak ada. Pada saat itu kondisi Sendang Biru masih tertutup dengan mayoritas penduduk beragama Nasrani, mayoritas masyarakatnya pada waktu itu mensyukuri keadaan yang diterima oleh mereka dengan kegiatan keagamaan yang bersifat ecek-ecekan (ala kadarnya) dengan mengadakan kebaktian dan makan bersama di pantai.
    Menurut beliau bahwa dinilai dari nama kegiatannya prosesi upacara “Petik Laut”, sebenarnya dibagian belakang diembel-embeli dengan kata syukuran nelayan, tentang kalimat syukuran nelayan di belakang ”Petik Laut” itu sendiri sesungguhnya merupakan ungkapan bahwa masyarakat nelayan sangat mensyukuri anugerah dari Tuhan yang telah melimpahkan rejeki dimana nelayan tidak pernah menabur, menanam, merawat ikan yang ada namun mendapat hasil yang melimpah di bidang perikanan, dan inilah yang sebenarnya harus disyukuri oleh para nelayan. Berkaitan dengan simbol-simbol yang muncul dalam prosesi upacara petik laut adalah tidak ada masalah bagi Pak Saptoyo, namun yang paling penting bagi beliau adalah dari sikap hidup, masyarakat Kristen janganlah dipusingkan dengan simbol-simbol yang hanya berkaitan dengan bidang budaya masyarakat. Yang penting disini adalah dari sikap hidup itu dapat membuat orang berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan sehingga hidup damai yang sudah ada jangan sampai terusik. Acara kebaktian di gereja untuk para pemeluknya lebih diarahkan pada kegiatan ungkapan syukur atas apa yang telah mereka terima dari Tuhan. Prosesi Kebaktian tersebut memiliki runtutan sebagai berikut: nyanyian pujian, do’a pembuka, Ibadah (berupa ceramah agama oleh pendeta), serta do’a penutup.
    Berkaitan dengan simbol itu pula dalam pendapat beliau tetap menghargai jika ada masyarakat yang masih teguh adanya kepercayaan terhadap ”Nyi Roro Kidul” namun hal tersebut haruslah dilihat bahwa sebenarnya dibalik semua itu masyarakat yang memiliki aliran kepercayaan tersebut juga mengakui adanya keberadaan Tuhan diatas kekuatan ”Nyi Roro Kidul”. Pengaruh adanya kegiatan ”Petik Laut” terhadap kehidupan masyarakat dinilai memberi kontribusi positif di semua bidang. Misal dalam bidang pendidikan, bahwa kita diajarkan untuk menghormati sejarah, mengenang tentang munculnya proses tersebut di pihak kristen ada tokoh pula yang berkaitan dengan Budaya Petik Laut itu sendiri. Dari sisi Wisata, sebagai obyek wisata yang layak dikunjungi karena di dalam rangkaian prosesinya juga menampilkan bermacam-macam hiburan yang layak ditonton dan dinikmati oleh masyarakat Sendang Biru dan juga masyarakat dari luar daerah Sendang Biru.

    Petik Laut dan Aparat Pemerintah
    Berbicara tentang peran pemerintah, sebenarnya pemerintah selama ini memberi dukungan secara moral dan spiritual. Namun jika dilihat secara material tidak ada dukungan yang significant dan tetap dari pemerintah (alokasi di APBD tidak ada). Kalaupun ada bantuan dari pemerintah itu sebenarnya adalah karena pendekatan personal dari pihak panitia. Dana yang sebenarnya dipakai dalam kegiatan ”Petik Laut” itu sendiri seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat dan dana sponsor. Jadi tentang mewah atau tidaknya kegiatan ”Petik Laut” dalam penyelenggaraannya tergantung juga pada seberapa besar dana yang bisa dihimpun oleh panitia.
    Peran pemerintah Kabupaten mulai kelihatan nyata ketika prosesi upacara ”Petik Laut” dilaksanakan, yaitu ketika muncul sambutan dari Bupati atau yang mewakili. Selain itu juga pada saat pembacaan do’a yang dilaksanakan oleh salah satu utusan dari pegawai dinas Departemen Agama yang berasal dari Kabupaten. Pembacaan do’a ini pastinya sangat berbeda jauh dengan pembacaan do’a upacara sejenis yang masih mengikuti pakem upacara adat yang asli.
    Sebenarnya terdapat kaitan antara pemerintah dengan prosesi upacara ”Petik Laut” jika ditinjau dari program pembangunan yang mulai bergeser dari Pantai Utara Jawa ke Pantai Selatan Jawa. Menjadikan kawasan selatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan kebudayaan baru, sudah tentu membutuhkan pemikiran bersama. Mereka yang berkepentingan dengan kawasan ini perlu duduk bersama dan membuat kesepakatan-kesepakatan. Seperti yang dikemukakan Juliantara (2004: 27) bahwa sekitar 35 kabupaten yang ada di wilayah selatan perlu membahas dengan seksama tentang arah yang harus dituju agar kawasan selatan dapat dikelola bersama secara baik, selain itu dipaparkan juga bahwa laut selatan memiliki potensi besar, bukan hanya masalah perikanan melainkan juga untuk transportasi, wisata bahari, tambang, dan lain-lain. Dari sini, sesungguhnya untuk kedepan terdapat harapan yang sangat penting untuk digagas yaitu penataan wilayah Pantai Selatan Jawa dari segala sisi kehidupan, mulai dari bidang ekonomi sampai ke kebudayaan, termasuk prosesi upacara ”Petik Laut” sebagai potensi budaya dan wisata yang sangat besar.

    Petik Laut dan Masyarakat
    Sebenarnya hal ini dapat mulai dikupas dengan mengacu pada gejala dalam kasus popular art dan folk religion yang termasuk collective consciousness atau representation collectives dalam peristilahan yang dikemukakan oleh Emile Durkheim (1858-1917) dalam Kuntowijoyo (2003). Bahwa dalam sosiologi Durkheim, mentalitas kolektif bukanlah persoalan psikologi yang membicarakan fakta individual tetapi merupakan persoalan sosiologis. Fakta sosial merupakan gejala yang dimiliki secara umum oleh anggota-anggota suatu kelompok sosial. Mitos, legenda populer, konsepsi-konsepsi agama, kepercayaan moral, dan sebagainya, mencerminkan fakta sosial. Jadi perubahan yang terjadi di Sendang Biru sesungguhnya adalah cerminan fakta sosial yang muncul lewat konsepsi agama yang berusaha bebas dari mitos.
    Berdasar data yang didapat memang menyatakan bahwa sebagian masyarakat masih memegang teguh tujuan awal dari pelaksanaan prosesi upacara ”Petik Laut”, yaitu sebagai ajang syukuran nelayan, dan perlu diberi catatan “bebas dari mitos”. Namun terdapat juga masyarakat yang mulai keluar dari tujuan awal tersebut dengan mengimani adanya kekuatan ghaib yang berpusat pada mitos “Nyi Roro Kidul”, namun masih dibutuhkan penelitian lanjutan yang bersifat kuantitaif untuk mengetahui prosentase masyarakat yang berada dalam kutub yang hampir berbeda tersebut dan penelitian ini membutuhkan waktu yang sangat lama karena nantinya akan dapat berbentuk penelitian jenis etnografi.
    Berbicara tentang dampak lain yang dirasakan oleh masyarakat adalah dampak positif bidang perekonomian, yaitu dimulai dengan munculnya pasar dadakan pada bulan Agustus sampai bulan September, hal ini mengakibatkan beberapa masyarakat yang berlokasi di sekitar pasar dadakan tersebut dan yang berwairausaha di bidang pengolahan makanan mengalami peningkatan pendapatan karena banyaknya konsumen dadakan yang membeli makanan dari mereka. Selain itu bagi masyarakat lainnya dapat membuka jenis-jenis usaha musiman dengan datangnya event “Petik Laut”, misal: penginapan bagi pengunjung luar kota, warung telekomunikasi, dan lain-lain. Selain itu dari sisi ekonomi korelasi yang erat terlihat dalam keterangan berikut: ”Petik Laut” merupakan masa dimana masyarakat nelayan membelanjakan uangnya untuk kesenangan. Ada hal yang utama yaitu berkaitan dengan rangkaian kegiatan ”Petik Laut”, yaitu orang yang datang ke Sendang Biru jumlahnya meningkat dengan pesat. Banyak juga diantara mereka yang menjadikan rangkaian prosesi ”Petik Laut” ini sebagai ajang mencari penghasilan, misalkan para pedagang dari kota. Bahkan diantara mereka banyak yang datang 1-2 bulan sebelum rangkaian acara ”Petik Laut” diselenggarakan. Diantara mereka banyak yang berdagang pakaian, mainan anak-anak, peralatan rumah tangga, makanan, dan lain-lain. Berkaitan dengan dampak pada budaya kehidupan sehari-hari, untuk saat ini masyarakat sudah bisa memfilter sendiri budaya yang menurut mereka tidak sesuai dengan budaya di Sendang Biru, diistilahkan kalau menerima sesuatu yang baru terutama tentang budaya adalah ”Ora blak kotak” yang artinya menerima budaya orang secara utuh tanpa filter. Ke masa depan masyarakat berharap agar pengelolaan “Petik Laut” ini dapat lebih diarahkan pada budaya dan wisata.

    Kesimpulan dan Saran
    Budaya Petik Laut merupakan budaya masyarakat di Pantai Sendang Biru yang baru ada pada tanggal 27 September 1989, yang bertujuan utama untuk mengungkapkan rasa syukur nelayan kepada Tuhan YME atas segala rejeki yang telah mereka t erima selama ini. Terdapat perbedaan yang mencolok antara budaya upacara “Petik Laut” dengan prosesi upacara religi budaya pada budaya klasik yang biasanya dilaksanakan pada tanggal 1 Syuro. Simbol-simbol yang ada dalam upacara pada awalnya diciptakan sebagai sarana hiburan, yang saat ini justru menjadi daya tarik wisata bahari bagi masyarakat secara luas. Perubahan yang terjadi pada masyarakat Sendang Biru merupakan proses perubahan yang terbalik dari proses perubahan sistem religi secara umum, namun ini hanya terjadi pada masyarakat yang masih kurang memahami tujuan sesungguhnya dilaksanakan budaya upacara “Petik Laut”, sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan yang terjadi di Sendang Biru sesungguhnya adalah cerminan fakta sosial yang muncul lewat konsepsi agama yang berbeda.
    Perlu penelitian lanjutan yang bersifat kuantitaif untuk mengetahui prosentase masyarakat yang berada dalam kutub yang hampir berbeda dalam persepsi tentang budaya upacara “Petik Laut” dan penelitian ini membutuhkan waktu yang sangat lama karena nantinya akan dapat berbentuk penelitian jenis etnografi dan dapat menjadi salah satu acuan bagi pemerintah dalam pembuatan kebijakan lebih lanjut yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat lokal yang berbasis pada antropologi budaya, selain itu diharapkan terdapat penelitian serupa di tempat yang berbeda sehingga potret antropologi budaya dengan fokus sistem religi dapat di-peta-kan di seluruh wilayah Indonesia.

    Daftar Pustaka

    Damami, Mohammad. 2002. Makna Agama dalam Masyarakat Jawa. LESFI. Yogyakarta.117.

    Dove, Michael R. 1985. Pendahuluan di dalam Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi. Yayasan Obor Indonesia._.342
    Faisal, Sanapiah. 1999. Format-Format Penelitian Sosial. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

    Forbes. Dean K. 1986. Geografi Keterbelakangan. LP3ES. Jakarta. 252

    Juliantara, Dadang. 2004. Maritim, Partnership, dan Pembaharuan. Pustaka Jogja Mandiri. Yogyakarta. 133

    Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi I. Rineka Cipta. 206

    Kuntowijoyo. 2002. Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realita: Esai-esai Budaya dan Politik. Mizan. Bandung. 230

    Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah, edisi kedua. Tiara Wacana. Yogyakarta. 285

    Wiyata, A. Latief. 2003. Perangkap MisMetodologis dalam Memahami Masyarakat Nelayan di Jawa Timur. dalam Kusnadi. 2004. Polemik Kemiskinan Nelayan. Pondok Edukasi dan Pokja Pembaruan. Pustaka Jogja Mandiri. Yogyakarta. 110

    Laporan Potensi Desa. 2007. Laporan Tahunan Potensi Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur

    Poerwowidagdo, Judowibowo. 1990. Agama dan Kebudayaan dalam Pendidikan Nasional. Dalam Pattiasina, JM. Sairin, Weinata. 1990. Gerakan Oikoumene: Tegar Mekar di Bumi Pancasila. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. 412

    Sairin, Sjafri. 2002. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia, Perspektif Antropologi. Pustaka Belajar offset. Jakarta. 392

    Shinobu Majima and Mike Savage. 2007. Have There Been Culture Shifts in Britain?: A Critical Encounter with Ronald Inglehart, Cultural Sociology; 1; 293. http://www.sagepublications.com. Diakses tanggal 12 Juni 2007

    Simuh. 2003. Islam dan Pergumulan Budaya Jawa. Teraju. Jakarta. 214

    Singarimbun. Effendi. 1987. Metode Penelitian Survey. LP3ES. Jakarta.

    Usman H. Dan P.S. Akbar. 2006. Metode Penelitian Sosial. Bumi Aksara. Jakarta.

    Usman AB. 2004. Tradisi Upacara Lingkaran Hidup dan Komunal. Dalam: Merumuskan Kembali Interelasi Isalam-Jawa. Kerja sama antara Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang dengan Gama Media. Yogyakarta. 232

    Walter L. Wallace. 1990. Metoda Logika Ilmu Sosial (The Logic of Science in Sociology) edisi ke -4, diterjemahkan oleh Yayasan Solidaritas Gama. Bumi Aksara dengan copyright dari Aldine Publishing Company (Chicago). Jakarta. 121